Kampung Inggris, Apaan Tuh?

Kampung InggrisOkey kita mulai dari nama “Kampung Inggris”. Nama ini sebenarnya bukan nama formal dari sebuah desa. Ini hanyalah sebutan atau julukan bagi suatu perkampungan yang terletak di Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Kampung Inggris merupakan Perkampungan kecil yang damai, sejuk, nan jauh dari keramaian kota. Dan yang perlu ditegaskan, orang-orang yang tinggal disini adalah murni orang Indonesia tulen.

Jadi, bukannya kampung tempat tinggal orang bule. Ya mungkin ada sih satu atau dua orang bule disana. Tapi kayaknya cuma numpang lewat deh. Kalo pun ada orang bule yang tinggal disana, ya mungkin itu sudah “bule” dari sononya (alias keturunan). Yang pasti, mitos, anggapan, berita atau apalah namanya yang menyebutkan bahwa kampung ini adalah tempat hunian para bule itu salah. Namun julukan yang diberikan pada kampung ini juga bukan tanpa alasan. Karena memang konon ceritanya di kampung ini semua orang berbicara bahasa Inggris. Tapi bukan karena bahasa Inggris adalah native language (bahasa asli) mereka. Melainkan lebih karena banyak orang yang bisa berbicara bahasa Inggris disana. Di Kampung ini memang terdapat banyak sekali kursusan bahasa Inggris. Sampai pertengahan tahun 2010, tercatat terdapat sekitar 80 Lembaga Kursus beroperasi di Kampung Inggris. Bahkan kampung ini seperti sudah menjadi pusat pembelajaran bahasa Inggris terbesar di Indonesia. Dengan banyaknya lembaga kursus tersebut maka tak heran kalau banyak orang bicara bahasa Inggris dimana-mana, yang tak lain dan tak bukan adalah murid/guru dari lembaga – lembaga kursus di sana.

Sejarah Kampung Inggris

Bagaimana ceritanya sebuah perkampungan kecil ini bisa menjadi pusat pembelajaran bahasa Inggris terbesar di Indonesia?. Semuanya berawal dari didirikannya lembaga kursus yang bernama BEC (Basic English Course) oleh seorang penduduk pendatang yang bernama Pak Kallen (Mr Kallen). Sekalipun namanya seperti nama orang bule, tetapi dia orang Indonesia asli lho.. Pada awal berdirinya fasilitas yang dimiliki sangat terbatas, karena hanya berlokasi di teras masjid yang diperuntukkan untuk anak-anak desa yang kurang menguasai bahasa inggris. Selanjutnya di rumah-rumah yang membolehkannya mengajar, dan akhirnya sampai memiliki gedung sendiri. begitulah perjuangan Pak Kallen yang konsisten dan pantang menyerah hingga mengantarkan BEC menjadi begitu terkenal dan lulusannya diakui kualitasnya. Hal inilah yang mengundang banyak pendatang dari se-antero nusantara untuk belajar bahasa Inggris disana. Sampai-sampai tidak ada tempat lagi di BEC untuk menampung para calon murid tersebut. Nah, dari sinilah mulai “berkembangbiak” beberapa lembaga kursus baru untuk memenuhi permintaan yang semakin meningkat. Beberapa lulusan BEC tetap mengajar disana dan beberapa yang lain mendirikan lembaga kursus sendiri. Lembaga kursus yang didirikan pun semakin bervariasi dari segi waktu, spesialisasi program, metode serta biayanya. Akan tetapi, tidak semua lulusan BEC memilih untuk mengajar dan mendirikan kursusan sendiri. Ada juga yang buka warung, jualan bakso, dagang soto, membuka tempat fotokopi dll. Dan mereka semua bisa berbahasa Inggris. Mungkin dari sinilah asal cerita bahwa “bahkan tukang bakso sampai tukang soto pun bisa berbahasa Inggris”. Kurang lebihnya seperti itulah gambaran serta sejarah mengenai kampung Inggris.

Sebarkan ke duniaShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+13
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.You can leave a response, or trackback from your own site.
4 Responses
  1. arie chandra says:

    I never go to the “Kampung Inggris” but fortunately for those who get the chance to learn there. I know about “English village” because I often open the internet. Yes indeed very interesting. We can get people who had a strong desire to learn about English language, particularly about convesation.Tetapi not many people have the opportunity to study there. Moreover, we must stay there . In other words, we must be to leave our daily activities. Of course only those who have plenty of time to be able to study in the “Kampung Inggris”. Actually, what makes ” Kampung Inggris” diferrent with the others? Maybe someone who can help explain to me? Because I think, in this blog we can pour our ideas. Thanks for your attention. Success for all. amen.

  2. siti elisyah says:

    Assalamu’alaikum…pak mau tanya berapa biaya kursus dan berapa bulan waktu kursusnya

  3. ana shaf says:

    mohon infonya kursus untuk anak umur 5th

  4. IYUSNIKA ANELA says:

    Saya Anela, saya tertarik untuk mendaftarkan diri saya dan teman teman di Kampung Inggris dalam waktu yang dekat ini
    saya ingin bertanya mengenai pendaftaran, perincian biayanya dan contact person yang bisa dihubungi
    terimakasih 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*